Powered By Blogger

Jumat, 09 Mei 2014

Perpajakan 1-Pertemuan ke-9

Pengertian
·       Pajak yg dipungut oleh Bendaharawan Pemerintah sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang, dan badan-badan tertentu untuk memungut pajak dari WP yang melakukan kegiatan di bidang import atau kegiatan di bidang lain.
·       Pemungut: Bendaharawan Pemerintah,
Badan-badan tertentu di bidang import.
·       Pungutan bersifat final.
Pemungut Pajak
1.    Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atas impor barang;
2.    Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Bendahara Pemerintah baik di tingkat Pusat ataupun di tingkat Daerah, yang melakukan pembayaran atas pembelian barang;
3.    Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah,  yang melakukan pembelian barang dengan dana yang bersumber dari belanja negara (APBN) dan/atau belanja daerah (APBD), kecuali badan-badan tersebut pada angka 4;
Bank Indonesia (BI), PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), Perum Badan Urusan Logistik (BULOG), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom),  PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Garuda Indonesia, PT Indosat, PT Krakatau Steel, PT Pertamina, dan bank-bank BUMN yang  melakukan   pembelian   barang   yang   dananya   bersumber   dari  APBN maupun   non-APBN;
Pemungut Pajak
5.    Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha  industri   semen, industri  kertas,   industri baja,   dan   industri   otomotif,   yang   ditunjuk   oleh  Kepala  Kantor   Pelayanan   Pajak,   atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri;
6.    Produsen atau importir bahan bakar minyak, gas, dan pelumas atas penjualan bahan bakar minyak, gas, dan pelumas.
7.    Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan,  perkebunan,  pertanian,  dan perikanan yang ditunjuk oleh Direktur  Jenderal  Pajak atas pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor mereka dari pedagang pengumpul.
8.    Wajib Pajak Badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah.
  Sumber: Permenkeu RI No. 210/Pmk.03/2008 Ttg Perubahan Kelima Atas Keputusan Menkeu No. 254/KMK.03/2001
Objek Pemungutan PPh Pasal 22
  Impor barang.
  Pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan oleh Dirjen Anggaran, Bendaharawan Pemerintah baik Pusat maupun Daerah.
  Pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan BUMN dan BUMD yang dananya dari belanja negara dan atau belanja daerah.
  Penjualan hasil produksi di dalam negeri yang dilakukan oleh badan usaha yang bergerak di bidang industri semen, rokok, kertas, baja dan industri otomotif.
  Penjualan hasil produksi yang dilakukan oleh Pertamina dan badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang BBM premix dan gas.
  Pembelian bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan, pertanian serta perikanan dari pedagang pengumpul.
Dikecualikan dari Pemungutan PPh Ps 22
a)    Import brg/penyerahan brg yg bdsrk UU tidak terutang PPh.
b)   Import brg yg dibebaskan dari BM atau PPN (lihat next).
c)    Dalam hal import sementara jk nyata2 utk di-eksport kembali.
d)   Pembayaran yg jumlahnya maks Rp 2 juta dan tidak pembayaran yg terpecah2.
e)    Pembayaran utk pembelian BBM, Listrik, Gas, Air Minum/PDAM dan benda2 pos.
f)     Emas batangan yg akan diproses utk menghasilkan perhiasan utk tujuan eksport.
g)    Pembayaran/Pencairan dana JPS.
h)   Import kembali dr brg2 yg telah dieksport dgn kualitas yg sama, mis: tujuan pengujian, perbaikan yg memenuhi syarat Dirjen Bea Cukai.
à a&f à SKB Pajak
à b&c à sesuai UU/peraturan
à d, e, g, h à otomatis


Tidak ada komentar:

Pengikut